Jalintim Palembang–Betung Lumpuh Lagi! Jalur Neraka Pemudik & Truk ODOL yang Tak Pernah Sembuh
PROVOKATOR, PALEMBANG — Jalur Lintas Timur (Jalintim) Sumatera yang menghubungkan Palembang dan Betung kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu “jalur neraka” paling legendaris di Sumatera Selatan. Kemacetan horor dan antrean panjang kendaraan kembali mengular hingga puluhan kilometer. Pengendara—mulai dari sopir truk logistik, bus antarkota, hingga mobil pribadi—dipaksa mengurut dada dan mematikan mesin berjam-jam di tengah teriknya cuaca.
Persoalan kemacetan di ruas jalan nasional ini seolah menjadi penyakit kronis tahunan yang tak kunjung menemukan obat mujarab. Padahal, urat nadi perekonomian yang menghubungkan Palembang menuju Musi Banyuasin hingga Provinsi Jambi ini memegang peranan krusial bagi arus barang dan manusia.
Perbaikan Jalan & Teror Truk Over Dimension Over Load (ODOL)
Berdasarkan pantauan langsung dan aduan para pengguna jalan, penumpukan kendaraan kali ini dipicu oleh kombinasi klasik yang mematikan: proyek perbaikan jalan dan maraknya truk bermuatan lebih (ODOL).
Pengerjaan pengecoran dan penambalan lubang di beberapa titik krusial memaksa petugas memberlakukan sistem buka-tutup jalur. Sayangnya, skema ini sering kali kacau ketika kebiasaan buruk para pengendara yang saling menyerobot dari arah berlawanan justru mengunci total pergerakan lalu lintas.
Situasi kian parah dipergenting oleh dominasi kendaraan berat berkategori ODOL. Truk-truk angkutan barang dengan tonase berlebih ini bergerak sangat lambat saat melintasi tanjakan atau jalan bergelombang. Tak jarang, truk-truk ini mengalami patah as, mogok, atau terperosok di bahu jalan, yang seketika menjadi “penyumbat utama” di tengah sempitnya ruas Jalintim.
“Sudah biasa kalau lewat sini, Mas. Kalau lagi parah, jarak yang harusnya ditempuh dua jam bisa membengkak jadi enam sampai delapan jam. Kita cuma bisa pasrah gigit jari di dalam kabin,” keluh Rian, salah satu sopir truk angkutan barang yang terjebak di area KM 23.
Menguras Ekonomi dan Emosi Warga
Dampak kemacetan di Jalintim Palembang–Betung ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain merusak emosi para pengguna jalan, kerugian materiil akibat keterlambatan pasokan logistik membengkak signifikan. Bahan makanan yang dibawa truk berisiko membusuk di jalan, sementara konsumsi bahan bakar minyak (BBM) membengkak tanpa menghasilkan jarak tempuh yang berarti.
Di sisi lain, perbaikan jalan berkala yang terkesan tak pernah tuntas menimbulkan tanda tanya besar bagi warga. Kualitas aspal yang cepat hancur akibat digilas truk ODOL membuat proyek jalan nasional ini terkesan seperti proyek “abadi” tanpa solusi jangka panjang.
Kebutuhan Desakan Tol dan Penegakan Hukum
Masyarakat dan pengguna jalan kini mendesak keseriusan Pemerintah Pusat, Kementerian PUPR, Dinas Perhubungan, serta jajaran Satlantas Kepolisian untuk tidak sekadar memberikan solusi bongkar-pasang di lapangan.
-
Penegakan Hukum Truk ODOL: Harus ada tindakan tegas dan razia permanen terhadap truk-truk bertonase berlebih yang nekat melintas pada jam-jam padat.
-
Percepatan Akses Tol: Keberadaan dan penyelesaian percepatan Seksi Jalan Tol Kapalbetung (Kayuagung–Palembang–Betung) sangat dinantikan sebagai satu-satunya cara permanen untuk memecah penumpukan arus kendaraan di jalur arteri.
-
Penyiagaan Petugas di Titik Rawan: Penempatan personel lalu lintas secara sigap di titik-titik penyempitan jalan sangat dibutuhkan guna mencegah aksi saling serobot yang menjadi pemicu terkuncinya lalu lintas.
Selagi perbaikan dan penertiban belum berjalan maksimal, Jalintim Palembang–Betung akan terus menjadi panggung uji kesabaran bagi siapa saja yang nekat melintasinya.
